Stop Bilang Healing, Kamu Cuma Jalan-jalan
Stop Bilang Healing, Kamu Cuma Jalan-jalan
Healing bukan kata buat ngopi di kafe aesthetic. Catatan scrolling Instagram hari ini.
Hari ini aku buka Instagram. Muncul reel cewek di danau, rambut kena angin dikit. Caption: "healing from things i don't talk about."
Reel kedua, cowok naik gunung, jaket uniqlo warna krem. Caption: "healing ke alam."
Reel ketiga, kopi latte sama buku di kafe aesthetic. "weekend healing."
Reel keempat, seseorang di bathtub hotel yang jendelanya menghadap sawah. "self healing finally."
Aku stop di reel keempat. Bukan stop karena puas. Tapi karena capek.
Bukan capek liat pemandangannya. Pemandangannya bagus-bagus. Tapi capek sama kata "healing"-nya.
Healing.
Dulu kata ini kedengeran serius. Psikolog pake. Konselor pake. Orang yang beneran berantakan hidupnya dan berusaha beresin, mereka pake. Sekarang? Sekarang healing artinya: ngopi di kafe yang ada lampu gantung anyaman rotan.
Gak ada yang salah sama ngopi. Atau naik gunung. Atau rebahan di hotel.
Tapi kenapa sih harus dikasih label healing?
Kayak jalan-jalan doang kurang cukup gitu. Harus ditempelin embel-embel biar keliatan... dalem.
Aku ngerti ini semua cuma soal packaging. Dulu orang flexing barang mahal. Tas, jam, mobil. Gampang ditebak. Publik tinggal judge: "ih pamer."
Sekarang flexing-nya lebih canggih. Orang gak pamer hotel mahal. Orang "self care di weekend." Gak pamer ke Eropa. Tapi "reconnecting with myself."
Kemasannya wellness. Isinya tetep flexing. Cuma sekarang susah di-judge karena bungkusnya rapi.
Dan orang kayaknya udah pada lupa kalau healing yang asli itu jelek.
Healing itu nangis di toilet jam 2 pagi. Healing itu ngomong ke temen "aku capek" dan ngerasa malu banget habis ngomong itu. Healing itu ke psikolog 3 bulan dan ngerasa gak maju-maju.
Gak ada yang Instagrammable dari proses kayak gitu. Gak ada preset Lightroom yang bisa bikin "nangis di toilet" keliatan estetik.
Jadi yang diposting bukan healing-nya. Tapi jedanya. Istirahat sebentar dari proses berantakan itu.
Dan jeda ya boleh. Manusia butuh jeda. Aku gak ngelarang.
Cuma lucu aja. Kadang jedanya lebih panjang dari prosesnya. Kadang orang lebih banyak mikirin caption healing daripada beneran beresin masalah.
Tapi ya sudahlah. Aku bukan psikolog. Aku bahkan gak punya mental health yang bisa diganggu. Jadi ini semua cuma catatan dari yang aku lihat.
Scrolling aja terus.
Komentar (0)
Tinggalkan Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!